BAYDEE

HOME ABOUT PRODUCTS NEWS CONTACT

What is the drawdown theory?

2023-11-20

Teori drawdown dalam dunia keuangan merujuk pada kerugian maksimum yang dapat dialami oleh suatu investasi, akun, atau portofolio tertentu dari puncak nilai tertingginya sebelum mencapai kembali tingkat tersebut. Dalam teori ini, drawdown sering kali diukur sebagai persentase penurunan dari nilai tertinggi ke nilai terendah. Konsep ini penting dalam analisis risiko investasi dan pengelolaan portofolio.

Tujuan utama dari teori drawdown adalah untuk memahami dan mengukur tingkat risiko dan kerugian yang mungkin dihadapi oleh suatu investasi atau portofolio. Dalam menjalankan investasi, sangat penting untuk mengetahui sejauh mana nilai investasi dapat turun sebelum kembali pulih. Dengan memahami tingkat drawdown yang mungkin terjadi, investor dapat mengambil keputusan yang tepat dalam hal alokasi aset dan pengelolaan risiko.

Pada dasarnya, drawdown adalah bentuk evaluasi risiko investasi yang mengukur seberapa jauh asset turun dari puncak semula. Menghitung drawdown membutuhkan data yang mencakup nilai tertinggi yang pernah dicapai oleh aset dan nilai terendah yang dicapai setelah mencapai puncak tersebut. Setelah memperoleh dua titik data tersebut, drawdown dihitung sebagai persentase penurunan antara nilai tertinggi dan terendah.

Misalnya, jika suatu investasi mencapai nilai puncak sebesar $10.000 dan kemudian turun menjadi $7.000, drawdown-nya akan dihitung sebagai persentase penurunan dari $10.000 ke $7.000, yaitu sebesar 30%. Dalam hal ini, drawdown adalah indikator risiko dan kerugian yang dialami oleh investasi tersebut.

Secara umum, drawdown dapat terjadi baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Pada basis jangka pendek, drawdown dapat mencerminkan fluktuasi pasar harian atau pergerakan harga yang lebih singkat. Dalam hal ini, drawdown akan mencerminkan volatilitas pasar yang mungkin menyebabkan hilangnya nilai investasi dalam periode waktu tertentu.

Namun, drawdown yang mungkin lebih signifikan adalah yang terjadi dalam jangka panjang. Misalnya, jika suatu portofolio investasi mengalami drawdown sebesar 50% dan investor tidak mampu mencapai kembali tingkat investasi awalnya, maka hal itu akan memiliki dampak yang signifikan terhadap kekayaan dan pendapatan investor.

Dalam drawdown jangka panjang, perlu juga diperhatikan durasi waktu yang diperlukan untuk mencapai kembali nilai investasi awal setelah jatuh. Semakin lama durasinya, semakin sulit bagi investor untuk pulih dari kerugian dan menghasilkan pengembalian yang positif.

Untuk mengelola teori drawdown, investor dapat menggunakan berbagai strategi risiko dan manajemen portofolio. Salah satu pendekatan yang selalu digunakan adalah diversifikasi. Dengan diversifikasi yang baik, investor dapat mengurangi risiko drawdown dengan mendistribusikan investasinya ke berbagai kelas aset yang berbeda.

Selain itu, penggunaan stop loss merupakan alat yang efektif untuk membatasi drawdown dalam jangka pendek. Stop loss memungkinkan investor untuk membatasi kerugian dengan menentukan tingkat harga di bawah harga saat ini, di mana posisi akan ditutup secara otomatis untuk menghindari kerugian yang lebih besar.

Bagi investor yang lebih konservatif, mengadopsi pendekatan bebas risiko seperti investasi pendapatan tetap atau deposito mungkin merupakan pilihan yang lebih bijaksana. Meskipun pengembalian dapat lebih rendah daripada aset yang berisiko, drawdown juga cenderung lebih rendah, memberikan tingkat kepastian yang lebih tinggi dalam pengembalian investasi jangka panjang.

Dalam kesimpulannya, konsep drawdown merupakan bagian penting dalam analisis risiko dan manajemen portofolio. Dengan memahami drawdown yang mungkin terjadi, investor dapat mengelola risiko mereka secara efektif dan membuat keputusan investasi yang tepat. Diversifikasi, penggunaan stop loss, dan pendekatan bebas risiko adalah beberapa contoh strategi yang dapat membantu mengurangi risiko drawdown.