BAYDEE

HOME ABOUT PRODUCTS NEWS CONTACT

why does plastic take so long to decompose

2023-11-29

Plastik adalah salah satu bahan yang paling umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari kita. Meskipun sangat populer dan praktis, sebuah pertanyaan mendasar muncul: mengapa plastik membutuhkan waktu begitu lama untuk terurai? Apakah ada alasan ilmiah di balik ini? Artikel ini akan menjelaskan mengapa plastik membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terdekomposisi dan dampaknya terhadap lingkungan.

Sebelum kita memahami mengapa plastik membutuhkan waktu lama untuk terurai, penting untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi saat plastik terurai. Proses terdekomposisi plastik melibatkan pemecahan molekul polimer menjadi fragmen yang lebih kecil. Fragmen-fragmen ini kemudian didegradasi lebih lanjut oleh mikroorganisme yang ada di lingkungan menjadi karbon dioksida (CO2), air, dan sedimen organik. Namun, plastik konvensional seperti polietilen (polyethylene) atau polipropilena (polypropylene) sangat sulit untuk terdekomposisi.

Salah satu alasan utamanya adalah karena struktur kimia plastik. Plastik adalah polimer sintetis yang terbuat dari unit-unit monomer yang bergabung bersama. Senyawa kimia ini bertahan dalam waktu yang lama dan tahan terhadap dekomposisi alami. Plastik juga sering kali tahan terhadap kondisi lingkungan yang keras seperti suhu tinggi, radiasi ultraviolet (UV), dan air.

Sebagai contoh, polietilen adalah jenis plastik yang paling umum digunakan. Strukturnya padat dan tidak memiliki ikatan yang mudah terurai. Selain itu, proses pembuatan polietilen juga berkontribusi pada ketahanannya yang lama. Proses ini melibatkan polimerisasi etilena, yang menghasilkan rantai panjang dan struktur yang padat. Efeknya, polietilen dapat hidup selama ratusan tahun sebelum akhirnya terurai.

Selanjutnya, faktor jangka waktu dekomposisi tergantung pada bagaimana plastik dibuang. Ketika plastik tidak didaur ulang atau dibakar, maka ia berakhir di tempat pembuangan sampah. Di tempat pembuangan sampah umum, plastik tidak terdekomposisi karena terkubur di dalam tanah yang tidak memiliki sirkulasi udara yang memadai. Kondisi seperti ini tidak menguntungkan bagi mikroorganisme pengurai, yang membutuhkan oksigen untuk hidup dan berkembang.

Namun, meskipun plastik yang terkubur di tanah mengalami dekomposisi yang sangat lambat, mereka tetap dapat memberikan kontribusi negatif terhadap lingkungan. Ada risiko kontaminasi tanah dan air tanah akibat limbah kimia yang terkandung dalam plastik. Plastik juga dapat menyerap bahan kimia berbahaya dari lingkungan sekitar, yang pada gilirannya dapat terakumulasi dalam rantai makanan dan berdampak negatif bagi organisme hidup.

Selain itu, ketahanan plastik terhadap sinar UV juga menyebabkannya sulit terurai di tempat pembuangan sampah terbuka atau di laut. Radiasi UV dari matahari merusak ikatan kimia dalam plastik, namun proses ini sering kali memakan waktu sangat lama. Dalam beberapa kasus, plastik yang terpapar sinar matahari bisa pecah menjadi fragmen yang lebih kecil, tetapi mereka tetap masih tersisa di lingkungan untuk waktu yang lama.

Karena plastik membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai, dampaknya bisa sangat merugikan bagi ekosistem dan organisme hidup di planet ini. Sampah plastik yang terbuang sembarangan bisa menumpuk di lautan dan menjadi ancaman bagi kehidupan laut. Hewan seperti burung, ikan, dan mamalia laut sering kali terperangkap dalam plastik atau memakan fragmen plastik yang mereka anggap sebagai makanan, yang dapat menyebabkan cedera atau kematian.

Dalam rangka mengurangi dampak negatif ini, sangat penting untuk meningkatkan upaya daur ulang plastik, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, dan mempromosikan kesadaran tentang pentingnya membuang plastik dengan benar. Selain itu, penelitian juga sedang dilakukan untuk mengembangkan plastik yang lebih mudah terdekomposisi dan ramah lingkungan, seperti plastik biodegradable yang terbuat dari bahan-bahan organik.

Pada akhirnya, mengetahui mengapa plastik membutuhkan waktu begitu lama untuk terurai adalah langkah awal dalam memahami dampaknya terhadap lingkungan. Mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, mendaur ulang, dan mencari alternatif yang ramah lingkungan adalah hal-hal yang dapat kita lakukan untuk melindungi bumi dan makhluk hidup di dalamnya.